Sejarah Jepang

Sejarah Jepang di zaman Sengoku

Ada banyak sejarah di jepang yang terdiri dari banyak zaman.
Yakni:

 Tapi, kali ini saya akan membahas terntang zaman Sengoku (1467–1573).

Sengoku Jidai (Sengoku Period)
Periode/zaman Sengoku (戦国時代 Sengoku jidai) atau yang dalam bahasa Inggris disebut dengan Warring States period merupakan salah satu dari sekian banyak pembagian zaman dalam sejarah Jepang. Periode Sengoku merupakan masa dimana kerap terjadi pergolakan sosial, intrik dalam kancah politik, serta konflik militer yang hampir secara konstan berlangsung dari awal abad ke-15 hingga awal abad ke-17. Kata “Sengoku” sendiri diadopsi oleh pada budayawan Jepang dengan mengacu pada Warring States Period yang ada pada sejarah negara Cina.

Meskipun Ashikaga shogunate berhasil mempertahankan struktur Kamakura bakufu (Kamakura Shogunate*) dan membangun prajurit kepemerintahan berdasarkan pada persamaan hak dan kewajiban sosial yang dibuat bersama clan* Hōjō dengan Jōei Code* pada tahun 1232, hal ini masih dinilai belum berhasil dalam mendapatkan kesetiaan dari para daimyo*, terkhusus bagi para daimyo yang menguasai wilayah yang jauh dari Kyoto (yang merupakan Ibu kota jepang pada masa itu). Seiring dengan berembangnya perdagangan dengan negara Cina, ekonomi dalam negeri Jepang mulai berkembang secara signifikan, yang mana hal ini menjadi dasar dalam penggunaan uang sebagai alat pembayaran seiring dengan mulai bermunculannya pasar dan kota-kota perdagangan. Hal ini kemudian diikuti dengan perkembangan dalam sektor pertanian serta perdagangan skala kecil, yang mana hal ini memicu munculnya keinginan untuk mendapatkan otonomi daerah secara menyeluruh terhadap semua tingkatan hierarki sosial. Pada awal abad ke-15, adanya gempa bumi serta wabah yang melanda mengakibatkan banyak kaum petani yang memutuskan untuk melakukan pemberontakan karena merasa terus tertekan dengan hutang dan pajak.

The Ōnin War (1467–1477), merupakan konflik yang diakibatkan oleh tekanan ekonomi serta diperkuat dengan adanya perebutan kekuasaan antara para Shogun, konflik inilah yang kemudian menjadi titik awal dimulainya Periode Sengoku (Sengoku Jidai). Pasukan wilayah timur yang dipimpin oleh keluaga Hosokawa beserta para sekutunya berseteru dengan pasukan wilayah barat yang dipimpin oleh keluarga Yamana, pertempuran ini berlangsung disekitar wilayah Kyoto selama hampir 11 tahun, hingga pada akhirya meluas ke provinsi-provinsi sekitarnya.

Gekokujō
Pergolakan-pergolakan yang terjadi mengakibatkan melemahnya kontrol kekaisaran, hal ini yang memicu munculnya para daimyo guna mengisi kekosongan kekuasaan (vacuum of power) yang terjadi. Pada pergantian kekuasan inilah clan yang terorganisir dengan baik seperti keluarga Takeda dan Imagawa yang berkuasa dibawah otoritas dari Kamakura shogunate dan Muromachi shogunate berhasil memperluas pengaruh mereka. Pada dasarnya banyak clan-clan besar yang ada, namun posisi mereka pada akhirnya tergusur oleh bawahan yang lebih mempunyai kompetensi. Fenomena sosial ini kemudian dikenal dengan istilah gekokujō (下克上), yang secara literal berarti "the underling conquers the overlord".

Salah satu contoh konkret dari gekokujō ini adalah Hōjō Sōun, ia merupakan daimyo yang mempunyai latar belakang orang biasa yang mana kemudian berhasil mendapatkan kekuasaan di provinsi Izu pada 1493. Berkat jasa dari Hōjō Sōun, clan Hōjō terus menjadi penguasa di daerah Kanto sampai pada akhirnya ditaklukan oleh Toyotomi Hideyoshi pada akhir zaman sengoku. Beberapa contoh lainnya antara lain Hosokawa digantikan oleh Miyoshi, Toki digantikan oleh Saito, Shiba digantikan oleh Oda yang mana pada akhirnya kekuasaan Nobunaga Oda digantikan oleh Toyotomi Hideyoshi yang merupakan anak dari seorang petani tanpa nama keluarga.

Kelompok-kelompok religius yang terorganisir dengan baik juga mampu meraih kekuasaan pada periode sengoku dengan cara mempersatukan kaum petani untuk membelot dan melakukan pemberontakan terhadap aturan-aturan para daimyo yang dianggap menyengsarakan rakyat. Para biksu Buddha dari sekte True Pure Land membentuk sejumlah Ikkō-ikki* di provinsi Kaga, berhasil mempertahankan kemerdekaan mereka hingga hampir 100 tahun.

Unification
Setelah ketidakstabilan politik serta perang yang terjadi selama hampir satu setengah abad, hampir seluruh wilayah Jepang berada dibawah kekuasaan Oda Nobunaga yang merupakan daimyo pada provinsi Owari (sekarang bernama Prefektur Aichi). Namun sayangnya, impian Oda Nobunaga untuk menyatukan Jepang harus terhenti ketika ia terbunuh oleh Jendralnya sendiri Akechi Mitsuhide di kuil Honnō-ji pada tahun 1582 (yang mana dikenal dengan peristiwa Incident at Honnō-ji).

Kekuasaan Oda Nobunaga kemudian diambil alih oleh Toyotomi Hideyoshi. Hideyoshi yang pada awalnya adalah seorang ashigaru (footsoldier) menjadi salah satu Jendral yang paling dipercaya oleh Oda Nounaga. Setelah mengambil kesempatan untuk menjadi penerus Nobunaga, Hideyoshi kemudian mengkonsolidasikan kendalinya ke daimyo-daimyo lainnya. Dan walaupun ia mendapatkan sebutan Seii Taishogun* karena berasal dari kalangan biasa, ia berhasil memegang kursi kekuasaan sebagai Kampaku*.

Pergolakan politik kembali terjadi pada tahun 1598 ketika Hideyoshi meninggal tanpa ada penerus yang mempunyai kompetensi untuk mengambilalih kursi kepemimpinan. Kemudian muncul nama Tokugawa Ieyasu yang mengambil kesempatan guna menjadi penerus kekuasaan.

Sebelum menemui kematian, Hideyoshi menunjuk sekelompok daimyo terkuat di Jepang— Tokugawa, Maeda, Ukita, Uesugi, Mori*—untuk mengambilalih kepemimpinan sebagai Council of Five Regents sampai anaknya yang bernama Hideyori dewasa. Kedamaian hanya berlangsung sesaat sampai dengan kematian pemegang kekuasaan dari clan Maeda yaitu Toshiie Maeda pada 1599. Disusul oleh Ishida Mistunari yang menuduh Ieyasu atas ke-tidakloyal-annya terhadap Toyotomi, yang mana menjadi cikal bakal krisis yang dikenal dengan Battle of Sekigahara pada tahun 1600 yang merupakan salah satu pertempuran terbesar pada periode sengoku. Kemenangan Ieyasu di Sekigahara menandakan berakhirnya rezim Toyotomi. Tiga tahun kemudian, Ieyasu mendapatkan julukan Seii Taishogun, dan membentuk shogunate terakhir di Jepang, shogunate ini bertahan sampai dengan Restorasi Meiji pada tahun 1868.

Ada sebuah pertempuran antara Oda dan Tokugawa yang berlangsung pada tahun 1575 di dekat kastil Nagashino (長篠城) tepatnya pada dataran Shitaragahara (設楽原) di provinsi Mikawa(三河), Jepang.
Berikut ini.

Pertempuran Nagashino

Pertempuran Nagashino (長篠の戦い Nagashino no Tatakai?) berlangsung pada tahun 1575 di dekat kastil Nagashino (長篠城) tepatnya pada dataran Shitaragahara (設楽原) di provinsi Mikawa(三河), Jepang. Pasukan Takeda dipimpin oleh Takeda Katsuyori (武田勝頼) telah mengepung kastil sejak 17 Juni. Okudaira Sadamasa (奥平貞昌), salah seorang pengikut Tokugawa, adalah komandan yang memimpn pasukan yang mempertahankan kastil. Alasan yang menyebabkan pasukan takeda menyerang kastil Nagashino karena mereka menganggap kastil Nagashino berpotensi menghalangi garis pasokan mereka.

Tokugawa Ieyasu (徳川家康) dan Oda Nobunaga (織田信長) masing-masing mengirimkan pasukan mereka untuk menyelamatkan kastil dari pengepungan pasukan Takeda dan kemudian mereka menggabungkan kekuatan guna mengalahkan Takeda Katsuyori (武田勝頼). Kemahiran Nobunaga dalam memanfaatkan persenjataapian untuk mengalahkan pasukan berkuda Takeda dalam pertempuran ini menjadi sebuah titik balik yang merubah peperangan Jepang kedepannya, banyak para budayawan Jepang yang menyebut bahwa pertempuran Nagashino ini merupakan pertempuran modern pertama Jepang, walaupun pada faktanya pemakaian senjata api dalam pertempuran sudah ada sebelum pertempuran Nagashino. Inovasi yang dilakukan oleh Oda Nobunaga yaitu penggunaan barikade kayu serta rotating volleys of fire (Menembak secara bergantian) yang terbukti mampu membuat pasukannya memenangkan pertempuran di Nagashino.
Berdasarkan Shinchō kōki*, Oda Nobunaga dan Tokugawa Ieyasu membawa pasukan sebanyak 38.000 orang untuk membantu Okudaira Sadamasa dalam mempertahankan kastil dari serbuan pasukan Takeda yang dipimpin oleh Takeda Katsuyori. Dari 15.000 pasukan Takeda, hanya 12.000 orang pasukan yang menghadapi pasukan Oda-Tokugawa dalam pertempuran ini. Oda dan Tokugawa menempatkan pasukan mereka secara menyebar di dataran sekitar kastil dibelakang Rengogawa (連吾川), sebuah sungai kecil yang cukup dalam dan mampu memperlambat laju pasukan berkuda Takeda.
Guna melindungi pasukan arquebusiers* yang dimilikinya, Nobunaga mendirikan barikase-barikade kayu, inilah salah satu taktik dari Nobunaga yang membuat pertempuran ini dikenal dengan pertempuran modern pertama Jepang, Nobunaga menempatkan pasukan penembak terlatihnya dibelakang barikade kayu guna menghalangi taktik penyerangan berkuda yang dimiliki oleh Takeda. Barikade kayu selain berfungsi sebagai penghambat laju pasukan berkuda Takeda juga mempunyai fungsi sebagai pelindung pasukan penembak Nobunaga dari serangan pedang, tombak serta mampu meminimalisir jumlah korban akibat serangan anak panah Takeda. Penempatan barikade disusun sedemikian rupa agar pasukan berkuda Takeda berada di jalur yang memungkinkan pasukan Oda-Tokugawa melakukan serangan secara optimal baik menggunakan serangan jarak jauh dengan senjata api dan panah, maupun serangan jarak dekat dengan pedang dan tombak. Nobunaga menempatkan sekitar 3 orang penembak untuk 4 orang pasukan berkuda Takeda. Pasukan penembak yang ditempatkan oleh Oda diperkirakan berjumlah 3.000 orang (dan mereka ditempatkan dibawah pimpinan dari horo-shu (母衣衆), atau yang lebih dikenal dengan pasukan penjaga elit. Selain menempatkan pasukan penembak, Oda juga mengirimkan pasukan dalam jumlah yang kecil ke garis depan sebagai pengalih perhatian dengan tujuan memaksa pasukan Katsuyori untuk ikut maju menghadapi pasukan Oda.
Pasukan Takeda memulai penyerbuan dari hutan, sekitar 200-400 meter dari blokade pertahanan Oda-Tokugawa. Jarak yang dekat serta hujan yang lebat pada saat itu (yang semakin meyakinkan pasukan Takeda jika senapan milik pasukan Oda tidak akan berfungsi), membuat Katsuyori semakin yakin apabila taktik serangan pasukan berkudanya akan berhasil. Keyakinan Katsutori akan kemampuan pasukan berkudanya bukannya tanpa alasan, pasukan berkuda Takeda pada saat itu sangat ditakuti oleh Oda-Tokugawa yang sebelumnya telah menderita kekalahan pada pertempuran Mikatagahara (三方原の戦い).
Kuda-kuda Takeda melambat ketika mencoba menyebrangi sungai, ketika jarak antara pasukan berkuda dengan blokade pertahanan Oda-Tokugawa tersisa 50 meter pasukan penembak Oda mulai membuka serangan. Jarak 50 meter dirasa cukup optimal untuk melepaskan tembakan karena pada jarak itu tembakan yang dilepaskan mampu menembus pakaian perang dari pasukan berkuda. Pada beberapa strategi militer, kesuksesan penyerbuan dengan menggunakan pasukan berkuda ditentukan oleh seberapa cepat pasukan berkuda mampu memecah formasi dari infantry musuh. Apabila formasi infantry musuh tidak bisa dipecahkan, bahkan dengan kuda-kuda yang terlatihpun, teknik penyerangan pasukan berkuda akan mengalami kegagalan.
Dengan memanfaatkan tembakan yang terus menerus dari pasukan arquebusiers, serta pertahanan solid dari para horo-shu, Pasukan Oda berhasil mempertahankan posisinya dan menangkal semua serangan yang dilancarkan Takeda. Ashigaru atau pasukan bertombak menusuk kuda-kuda yang berhasil melewati tembakan pertama dari dalam maupun dari atas blokade, kemudian pasukan samurai dengan pedang dan tombak pendek muncul dan menyerang pasukan infantry Takeda yang berhasil menerobos blokade secara satu persatu. Pertahanan kuat yang dilakukan Oda-Tokugawa berhasil mencegah serangan sisi yang dilancarkan oleh Takeda ke blokade. Pada senja hari, formasi penyerangan Takedapun hancur dan mereka memutuskan untuk mundur dari pertempuran. Pasukan Oda memanfaatkan peluang ini dengan melakukan pengejaran terhadap pasukan Takeda yang melarikan diri dari pertempuran. Menurut Shinchō kōki, Korban yang jatuh dari pasukan Takeda berjumlah 10.000 orang, dua pertiga dari jumlah awal pasukan penyerbu yang dikerahkan. Namun tidak sedikit para ahli yang menganggap informasi ini sedikit dilebih-lebihkan. Sumber kontemporer lainnya menyebutkan bahwa 1000 orang terbunuh saat pertempuran dan 2000 lainnya terbunuh ketika Takeda menarik mundur pasukannya dari pertempuran. Delapan dari '24 Jendral' Takeda yang terkenal terbunuh dalam pertempuran ini, termasuk including Baba Nobuharu (馬場信春), Yamagata Masakage (山県昌景), and Naito Masatoyo (内藤昌豊).

1 komentar:

Deep Red Flaming